Rabu, 15 Mei 2013


Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah SWT, kami dapat menyusun laporan hasil study lapagan yang telah dilaksanakan pada hari Sabtu minggu kemarin. Tidak kami pungkiri bahwa segala kekurangan berada didalam laporan kami, maka dari itu kami terus mengharapkan masukan-masukan untuk hasil laporan kami ini.
Di dalam laporan ini, kami rangkum semua hasil penelitian kami di Museum Balaputra Dewa. Kami harapkan dengan adanya laporan ini, dapat menjadi acuan dan sumber informasi untuk semua orang.Kritik dan saran dapat membantu penyempurnaan penyusunan laporanselanjutnya. Mudah-mudahan laporan ini dapat berguna bagi sekolah dan duniapendidikan pada umumnya.














Pangkalan Balai 4 Mei 2013



Penyusun











BAB 1
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Karya Wisata adalah kegiatan wisata yang dilakukan dengan tujuan untuk menambah dan menumpuk pengetahuan siswa. Setelah karya wisata, siswa diwajibkan untuk membuat karya tulis. Karya tulis adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dilaksanakan.
Laporan karya tulis ini merupakan tugas bagi semua angkatan kelas XI MAN Pangkalan Balai. Dalam penyusunan karya tulis ini, siswa diharapkan dapat melaporkan segala pengetahuan dan pengalamannya yang diperoleh selama menjalankan Study Lapangan .
Dalam laporan karya tulis ini membahas tentang beberapa  Situs Peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

B.    Tujuan
            Tujuan yang hendak kami capai dalam penulisan karya tulis ini adalah:
1.    Untuk menambah pengetahuan siswa.
2.    Untuk menambah pengalaman.
3.    Untuk mengembangkan potensi, etika, estetika, dan pratika.
4.    Untuk memupuk rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa.
5.    Dapat mengetahui objek peninggalan bersejarah di Museum Balaputra Dewa dan Sultan Mahmud Badarudin II.


















BAB II
PEMBAHASAN


A.  MUSEUM BALA PUTRA DEWA
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w26.jpg?w=400&h=266









Gambar 1.  Relife kehidupan masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan.

            Balaputradewa sendiri adalah nama seorang raja dari Kerajaan Sriwijaya.  Balaputradewa memerintah pada abad VIII-IX masehi.  Balaputradewa adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Sriwijaya karena di masa pemerintahan beliaulah Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya sebagai sebuah Kerajaan Maritime yang berkuasa hampir diseluruh Nusantara hingga mencapai Thailand, India, Filipina dan China.
            Memasuki pintu depan museum Balaputradewa kita akan langsung disuguhi dengan gambar atau relief kehidupan masyarakat Palembang yang dipanjang persis di depan dinding ruang masuk museum.  Relief kehidupan masyarakat Palembang tersebut menceritakan ada putri Palembang sedang menari Gending Sriwijaya yaitu tarian khas Palembang yang sering ditampilkan untuk menyambut tamu, tari Gending Sriwijaya sendiri pertama kali diperkenalkan pada 12 Agustus 1945.  Kemudian pada relief ada pula rumah Bari yaitu rumah lama khas Palembang.  Ada pula gambar rumah Limas yaitu rumah adat Palembang dimana di atasnya ada ornament tanduk kambing.  Digambarkan pula pada relief tersebut orang yang sedang bertenun songket.  Lalu ada juga sungai musi yaitu sarana transportasi utama di Palembang.  Di gambarkan juga Jembatan Ampera yang dibangun oelh bantuan Jepang tahun 1963 selesai 1965, jembatan Ampera sendiri memiliki panjang 1717 meter.  Dari gambar relief tersebut diceritakan pula bahwa dahulu di Palembang terdapat banyak sekali sungai, diperkirakan di Palembang dahulu terdapat 117 Sungai tapi sekarang hanya tinggal 17 sungai yang masih mengalir, oleh karena itulah Belanda member julukan pada Palembang sebagai Venesia dari Timur Jauh.  Ternyata dari gambar relief juga menceritakan bahwa dahulu Palembang adalah tempat menambang emas.  Lalu dari gambar relief membahas karena Palembang banyak terdapat rawa sehingga membuat rakyatnya membuat rumah panggung agar bisa tinggal di atas rawa.  Dan relief gambar juga membahas dahulu wanita Palembang tidak memakai selendang melainkan memakai Tudung Saji.
            Kebudayaan Palembang mengenal alat-alat yang digunakan saat melamar yaitu sena, nampar, bakul kecil dan bakul besar.  Keseniaan Palembang memiliki kemiripan dengan Arab.  Sedangkan songket memiliki makna yang berbeda-beda yaitu songket yang memiliki kekhasan mirip china dinamakan Bunga Cina dan songket yang memiliki kekhasan mirip arab dinamakan Bunga Pacik.  Songet yang asli biasanya terbuat dari benang Masjanup dan memiliki nilai seni tinggi dan harganya mahal.  Dan pakaian pengantin khas Palembang banyak dibuat di daerah Tanjung Baru.

1.  Mengenal Hasil Cipta Mahakuasa
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w5.jpg?w=400&h=266
Gambar 2.  Taman di tengah-tengah Museum Balaputradewa.
            Di dalam museum Balaputradewa juga terdapat peninggalan yang berasal dari alam yaitu:
a)    gading gaja yaitu tulang gigi seri bagian atas pada gaja yang memanjang menjadi taring, ditemukan di Pulau Bangka dimana diperkirakan fosil tersebut sudah berumur lebih dari 1000 tahun
b)    Kayu sungkai yaitu sisa bahan organic dari kayu sungkai yang terawetkan secara alami, kayu tersebut banyak tumbuh di daerah OKU dimana umurnya diperkirakan lebih tua dari masa Holosen.  Lalu ada pulau pengetahuan tentang batu atau bahan-bahan kimia seperti: 1) Cassiterte (SnO2) yaitu batu timah; 2) Hematite (Fe2O3) yaitu mineral pada besi merah; 3) Monazite (Xenotime) yaitu bahan tambang; dan 4) Lumite (Ce, Le, T, Th).
            Terdapat pula tumbuh-tumbuhan yang banyak tumbuh di Sumsel yaitu: 1) Nanas (Ananascomosus) yaitu tumbuhan yang berasal dari Amerika Selatan; 2) Tembesu (Fagrae spp.) yaitu pohon yang tumbuh liar dan banyak hidup di Sumatera dan Malaysia; 3) Kopi (coffea) dimana yang banyak tumbuh di Sumsel adalah kopi arabika dan robusta; 4) Lada (Pipesnigrum) yaitu termasuk dalam suku puperaceae dimana biji lada memiliki kandungan alkaloid paperin dari piperidin yang berguna bagi pembuatan heliotropin.






2.  Kisah dari Tiap Ruang Pameran
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w22.jpg?w=320&h=480








       Gambar 3.  Ruang Pamer Kehidupan Pra Sejarah.
   Ruang pamer 1 secara keseluruhan menceritakan tentang masa kehidupan di jaman pra sejarah (kehidupan manusia purba). 
Di ruang pamer 1 telihat berbagai lukisan dan berbagai situs peninggalan hewan-hewan purba yang disebut Vitron.  Kemudian ada pula yang menceritakan manusia purba pertama di pulau Jawa yaitu Pithecanthropus erectus yaitu manusia purba yang berjalan tegak ditemukan oleh Eugene Dubois.  Terdapat pula beraneka ragam binatang yang terdapat di daerah Sumsel yang telah diawetkan dengan cara membuang isi dalam tubuhnya kemudian diisi dengan kapas seperti: buaya, beruang; macan; beruk; semuni; biawak; kuskus; tringgiling dan masih banyak lagi.  Terdapat pula kerangka masuia purba yang ditemukan di gua harimau (OKU).  Ada pula miniature gua putrid yang merupakan situs tempat ditemukannya kerangka manusia pra sejarah.  Selain gua putrid ternyata gua harimau adalah situs tempat ditemukannya masuia purba dengan jumlah yang terbanyak dan terlengkap se Indonesia bahkan Asia Tenggara, di Gua Harimau pula ditemukan luksian yang diperkirakan dari masa pra sejarah (purba) dimana dengan ditemukannya lukisan gua jaman pra sejarah di Gua Harimau menjadikan tempat tesebut sebagai gua kedua atau yang pertama di Sumatera tempat ditemukannya lukisan gua dari jaman purba setelah dua di daerah Sulawesi.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w21.jpg?w=400&h=266
Gambar 4.  Miniatur Gua Putri (OKU) tempat ditemukannya kerangka manusia purba di Sumsel.
            Selain itu di ruang pamer 1 juga dipamerkan batu-batu raksasa dari jaman Megalitikum, batu-batu megalit tersebut kebanyakan ditemukan di daerah daataran tinggi Basemah (Pasemah) yaitu Bengkulu, Muaraenim, Lahat dan Pagaralam.  Batu-batu megalitikum tersebut membuktikan bahwa dahulu teknologi masa lalu/peradaban nenek moyang kita sudah sangat maju dan berkembang tidak kalah dengan bangsa lain sehingga kita sebagai generasi penerusnya harus bangga dengan apa yang telah nenek moyang kita tinggalkan untuk kita maka dari itu kita harus senantiasa merawat dan menghargainya.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w20.jpg?w=320&h=480
      Gambar 5.  Fasilitas baru di Museum Balaputradewa.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w19.jpg?w=400&h=266
Gambar 6.  Kerangka manusia purba yang ditemukan di Gua Pondok Salabe (OKU).
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w18.jpg?w=400&h=266
Gambar 7.  Wajah baru dari Museum Balaputradewa.








http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w17.jpg?w=400&h=266







Gambar 8.  Salah satu arca megalitikum dari masa pra sejarah yang ditemukan di dataran tinggi Basemah. 
 Arca megalith ini menampilkan bentuk seorang laki-laki perkasa.
 Bentuk mata bulat dan besar, tulang hidung besar dan lebar, demikian pula mulut dan kedua bibir. Tulang rahang dan tulang dagu sangat menonjol. Telingan dan leher juga digambarkan besar. Sama halnya dengan arca-arca primitive dari daerah Pasemah yang lain, yang menggambarkan serba besar pada bagian-bagian tubuh tertentu. Arca megalith ini berasal dari abad pertama masehi.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w16.jpg?w=320&h=480
Gambar 9.  Arca Buddha ditemukan di Desa Tingkip, Musi Rawas, Sumsel.
 Berdiri di atas asana berbentuk Padmasamaganda mengenakan jubah tipis polos, serta memperlihatkan sikap tangan Witarkamudra yang melambangkan sang Buddha sedang mengajar. Berdasarkan kehalusan seni dan gaya pahatan yang ditampilkan arca ini mengikuti gaya seni Dwarawati tetapi produksi lokal jaman Sriwijaya.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w15.jpg?w=320&h=480
Gambar 10.  Batu Gajah ditemukan di Desa Kotaraya, Pagaralam pada tahun 1930an. Oleh Van den Hoop arkeolog asal Belanda pada tahun 1930an Batu Gajah ini dibawah dari Pagaralam ke Palembang.
Arca Batu Gajah tidak hanya bernilai Profan, namun lebih cenderung kepada hal-hal yang bernilai sakral, keberadaan arca ini menjadi bukti akan tingginya tingkat teknologi seni pahat yang dicapai masyarakat pada masa Megalitikum. Selain itu Batu Gajah adalah salah satu benda yang dianggap sebagai korban/bukti dari kutukan “Si Pahit Lidah”, Legenda Si Pahit Lidah menceritakan seseorang yang dapat mengutuk orang lain menjadi batu.
            Di bagian lain luar ruang pamer menampilkan jenis arca yang diperoleh dari daerah Pagaralam sebanyak 8 buah yang berasal dari jaman pra sejarah sekitar 2000 tahun yang lalu.  Terdapat sebuah arca berbentuk patung kepala Budha yang berasal dari daerah Pagaralam, terdapat juga arca berbentuk lembuh yang dikeraskan dimana hewan ini dianggap sebagai kendaraan Dewa Shiwa, kemudian terdapat sebuah patung berupa wadah panjang yang digunakan untuk meletakkan tulang manusia ataupun tulang-tulang penduduk setempat yang telah mati dimana menurut sumber cara tersebut dilakukan oleh para penganut Animisme pada masa dahulu kalah, selanjutnya terdapat patung gajah yang dinamakan Ganesha berupa gajah menutup kedua telinganya dimana patung ini memiliki bobot 5 ton yang di dapatkan di daerah Pagaralam dan terakhir terdapat sebuah patung anak muda yang sedang menaiki seekor binatang.  Adapun secara keseluruhan arca-arca Agama Budha yang terdapat di Museum Balaputradewa adalah:
  1. Prasasti Arca Nanda
  2. Arca Makara
  3. Arca Perwujudan 1
  4. Arca Perwujudan 2
  5. Arca Perwujudan 3
  6. Arca Siwamahaguru
  7. Fragmen prasasti batu-batu Bumi Ayu
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w12.jpg?w=400&h=266
Gambar 11.  Animasi Sultan Palembang yang menyambut tamu berkunjung ke ruang pamer sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam.
            Di ruang pamer ke 2 menyajikan peninggalan arca-arca dari masa kerajaan Sriwijaya hingga peninggalan dari kerajaan Palembang Darussalam.  Dari masa kerajaan Sriwijaya terdapat replica prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada 29 Desember 1920 yang mengisahkan tentang seorang raja yang membawa pasukan sebanyak 2 laksa atau sekitar 2000 orang.  Terdapat juga replica prasasti Telaga Batu ditemukan pada tahun 1935 yang di atasnya terdapat 7 buah kepala ular kobra.  Kemudian ada pula replica prasasti Talang Tuo ditemukan pada 17 Desember 1920 yang mengisahkan bahwa sang raja membangun sebuah taman yang bernama Sedi Kosetr.  Masih banyak lagi prasasti-prasasti yang ditemukan di Pulau Bangka pada tahun 1920an.  Di museum ini juga terdapat prasasti Boom Baru ditemukan 1950 yang bertuliskan huruf palawa bahasa Sangsekerta.  Sangat menarik melihat prasasti-prasasti tersebut karena prasasti itu adalah salah satu bukti nyata bahwa dahulu memang pernah ada Kerahaan Sriwijaya yang tersohor itu dan lewat prasasti ini kita dapat mengetahui sepenggal kisah yang disampaikan dari masa kerjayaan Sriwiaya dahulu.
            Di sudut lain dari ruang pamer 2 terdapat berbagai arca peninggalan dari jaman Agama Hindu yang ditemukan di Bumi Ayu seperti arca Awalokiteswara, lalu terdapat sebuah wadah guci yang mengisahkan bahwa manusia terdiri dari 4 unsur yaitu api, air, udara dan tanah dimana pada masa lalu tubuh manusia yang sudah meninggal dibakar dan abunya dimasukan ke dalam guci tersebut yang diberi nama Bua Bua.  Di sisi lain terdapat lukisan suasana Palembang pada masa Kerajaan Sriwijaya saat berjaya di abad ke 7 Masehi sampai pertengahan abad 14 Masehi.  Di saat masa kehancuran Sriwijaya, kota Palembang menjadi tempat atau kota tak bertuan maka datanglah 4 orang perompak dari Cina yang dipimpin oleh Lio Tauming namun saat itu walaupun dengan kekuatan seadanya tetap dapat digempur oleh Pangeran Ario Damar untuk mempertahankan kota Palembang dan akhirnya berhasil.  Ario Damar adalah seorang pangeran yang berasal dari Majahpahit.  Pangeran Ario Damar terkenal dengan nama Raden Patah.  Raden Patah ketika mengetahui ayahnya menjadi seorang raja di Majahpahit membuat ia berniat kembali ke Majahpahit untuk memberitahukan kepada ayahnya tentang keadaan di Sriwijaya namun menjadi sia-sia karena ayahnya telah meninggal dunia terlebih dahulu kemudian Raden Patah bertemu dengan Wali Songo.  Pada masa pendudukan Belanda di Palembang, daerah yang dahulu dipertahankan oleh Raden Patah dari serangan perompak Cina dibumi hanguskan oleh Belanda, daerah tersebut dahulu di masa Kesultanan Palembang Darussalam dikenal dengan nama Kuto Gawang dan sekarang menjadi Pabrik Pupuk Sriwijaya.  Adapun peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam di Palembang adalah:
  1. Manik-manik
  2. Umpak batu
  3. Arca tablet tanah liat
  4. Kapak arca Awaloketiswara
  5. Fregmen acra perunggu
  6. Kaki arca
  7. Dan lukisan abad 17 yang mengisahkan perang antara Kesultanan Palembang Darussalam melawan Tentara Kolonial Belanda di depan Keraton Kuto Gawang (sekarang Pabrik Pupuk Sriwijaya)
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w10.jpg?w=400&h=266
Gambar 12.  Arca Awalokiteswara. Arca ini aslinya terbuat dari batuan andesit, ditemukan di daerah Musi Ulu Palembang.
Arca digambarkan dalam posisi berdiri di atas asana tetapi sudah hilang dan jari-jari kaki lurus ke depan. Mempunyai empat buah tangan, tiga di antaranya telah patah, yang tersisa hanya tangan kiri belakang membawa sesuatu yang tidak jelas. Menggunakan jubah, rambut ikal keriting, mata setengah tertutup, hidung mancung, mulut seolah tersenyum dan lubang telinga pangan. Perhiasan berupa upawita lebar yang berbentuk pita di atas bahunya. Ikat perut berbentuk gasper juga berbentuk pita. Mahkota yang dikenakan diikat di kepala bagian belakang dan pada mahkota tersebut terdapat arca Amithaba dalam posisi duduk di atas padmasana. Pada bagian punggung arca ini terdapat prasasti pendek dengan bahasa Sansekerta dan huruf jawa kuno, berbunyi: “accarya,, dan seterusnya”. Arca ini diperkirakan berasal dari abad 9 Masehi.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w11.jpg?w=400&h=266
Gambar 13.  Diorama ini menggambarkan Keraton Kuto Gawang berdasarkan hasil lukisan sketsa Joan van der Laen yang dibuat tahun 1659.
 Keratin dilukiskan menghadap ke arah Sungai Musi (ke selatan) dengan pintu masuk melalui Sungai Rengas. Disebelah timurnya berbatasan dengan Sungai Taligawe dan disebelah baratnya berbatasan dengan Sungai Buah. Dalam gambar sketsa tampak Sungai Taligawe, Sungai Rengas dan Sungai Buah tampak terus ke utara dan satu sama lain tidak bersambung. Sebagai batas kota sisi utara adalah kayu besi dan kayu unglen. Ditengah benteng tampak berdiri megah bangunan keraton yang letaknya di sebelah barat Sungai Rengas. Keraton Kuto Gawang ini didirikan oelh Ki Gede ing Suro pada awal abad ke 17 Masehi. Sekarang lokasi eks Keraton Kuto Gawang telah berdiri Pabrik Pupuk Sriwijaya.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w9.jpg?w=400&h=266
Gambar 14.  Benda-benda budaya khas Palembang.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w81.jpg?w=400&h=266
Gambar 15.  Benda-benda kerajinan khas Palembang.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w7.jpg?w=320&h=480








Gambar 16.  Tampak foto seseorang dan alat pemintal benang.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w6.jpg?w=320&h=480
    Gambar 17.  Songket khas Palembang.
            Peninggalan kebudayaan dari masa kesultanan Palembang Darussalam, disalah satu sisi diruang pamer 2 memajang lukisan seseorang bernama Sultan Mahmud Badaruddin atau Joyo Wikromo atau Sultan Mahmud Badaruddin I pendiri daerah di pinggir Sungai Musi yang sekarang dikenal dengan nama Benteng Kuto Besak dan terlihat pula gambar Masjid Agung Palembang yang dibangun kurang lebih selama 10 tahun dari tahun 1738 sampai 1746.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w14.jpg?w=400&h=266
Gambar 18.  Benda-benda sisi peninggalan masa kolonial Belanda di ruang pamer masa kemerdekaan.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w13.jpg?w=400&h=266
Gambar 19.  Kitab-kitab jadul peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam.
           Ruang pamer 3 menampilkan kumpulan koleksi-koleksi peninggalan pada masa perang mempertahankan kemerdekaan.  Di ruang pamer masa kemerdekaan banyak terdapat benda-benda dari masa kolonial Belanda saat menjajah di wilayah Palembang dan Sumatera Selatan.  Di anatarnya ada uang atau koin mata uang dari jaman Belanda, Jepang hingga awal kemerdekaan Indonesia.  Kemudian ada benda-benda kuno seperti radio, piringan hitam, pedang, pistol, pakaian, topi, meriam dan masih banyak lagi.

http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w3.jpg?w=400&h=266
Gambar 20.  Rumah Limas khas Palembang.
            Kemudian di bagian paling belakang dari Museum Balaputradewa kita dapat singgah ke Rumah Limas.  Rumah Limas di Museum Balaputradewa adalah rumah yang dahulu dimiliki oleh orang arab bernama Sarip Abdurahman Al Habsi (Arif) yang diangkat oleh Belanda menjadi seorang Kapitan.  Rumah Limas tersebut dibangun pada tahun 1836 Masehi lalu kemudian dijual kepada Pangeran Betung.  Rumah Limas tersebut masih sangat lengkap dengan berbagai macam perabotan yang khas Palembang seperti kursi, lemari, lampu-lampu gantung, dan lainnya.  Rumah Limas tersebut terdiri dari 4 buah lantai atau biasa disebut berkilat.  Rumah Limas tersebut sudah 3 kali berpindah.  Langit-langit Rumah Limas dihiasi dengan lampu-lampu stolop dengan menggunakan lilin dan air sehingga terlihat efek pelangi.  Terdapat tanduk rusa sebagai gantungan pakaian, lemari gerobok leket, pintu yang tidak menggunakan engsel dan umumnya Rumah Limas menghadap kea rah Sungai.
            Selain Rumah Limas terdapat pula Rumah Bergajah yaitu tempat orang-orang terhormat.  Lalu terdapat Rumah Hulu/Rumah Anti Gempa yaitu rumah yang tiangnya tidak ditanam namun hanya menggunakan batu yang dijadikan sebagai penyanggah dan lantainya menggunakan bambu.  Rumah ini memiliki bobot yang ringan, dinding yang bisa dibuka dan tidak memiliki jendela.  Rumah ini sendiri ditemukan di daerah Asam Kelat.
            Terdapat pula Gedung 3 Manusia dan Lingkungannya.  Pada gedung tersebut terdapat berbagai jenis alat transportasi seperti Liu-liu, gerobak, rakit dan perahu serta ada Jali yaitu kelombu yang berbentu burung-burungan dimana biasanya joli-joli ini diberikan untuk pengantin wanita sebagai lamaran juga ditambah dengan sena/nampa dan songket.  Di sini juga terlihat keranda berwarna hijau, ada juga patung seorang ibu tua yang sedang menganyam songket dan songket tersebut hanya boleh dipakai oelh seorang wanita yang sudah mempunyai suami.  Hasil dari tenunan patung ibu tua itu terpajang disebelah patung tersebut diantaranya adalah songket bunga pacar, songket naga, songket beraung dan berbagai aksesoris pengantin khas Sumsel seperti kalung dan gelang dari Tanjung Batu, Batik Pale, Batik Supri dan lainnya.  Kemudian yang terakhir di dalam Rumah Limas juga terdapat 7 keranda orang meninggal (tudung) berwarna hitam.
http://adrian10fajri.files.wordpress.com/2012/04/w23.jpg?w=400&h=266
Gambar 21.  Galeri atau Ruang Pamer Kebudayaan Malaka.
            Tambahan, di Museum Balaputradewa sekarang terdapat ruang khusus pertukaran budaya antara Kesultanan Malaka (Malaysia) dan Palembang (Indonesia).  Ruang pamer (Galeri) kebudayaan Malaka ini baru dibuka sekitar tahun 2011 saat Sultan Malaka berkunjung ke Palembang.  Ruang pamer kebudayaan Malaka didedikasikan kepada masyarakat Palembang karena adanya keterikatan batin dan budaya antara masyarakat Malaka dan Palembang.  Sultan Iskandar Syah yang lebih dikenal dengan nama Parameswara di Palembang merupakan sultan pertama dan pendiri kerajaan Malaka, Sultan Iskandar Syah atau Parameswara adalah orang Palembang asli yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Sriwijaya, saat Sriwijaya hancur pada abad ke 14 Masehi dan akan diduduki oleh kerajaan Majahpahit beliau (Parameswara) melarikan diri ke Semenanjung Malaka (Malaya), kemudian di Malaka Parameswara menikah dengan penduduk setempat lalu masuk Islam dan berganti nama menjadi Iskandar Syah, Iskandar Syah lalu mendirikan sebuah kerajaan di tanah barunya tersebut dengan nama Kesutanan Malaka.  Itulah sedikit kisah dari berdirinya Kerajaan Malaka di Semenanjung Malaya, oleh alasan itulah mengapa Sultan Malaka berkunjung ke Palembang lalu kemudian membuka Galeri Kebudayaan Malaka di Museum Balaputradewa agar para generasi muda di Palembang dan di Malaka sadar dan mengetahui bahwa antar kedua tempat tersebut memiliki ikatan batin dan budaya yang sangat erat dari diri leluhur mereka yaitu sang raja terakhir Sriwijaya dan raja pertama di Malaka “Sang Mulia Baginda Sultan Iskandar Syah atau Sri Baginda Parameswara”

B.   MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDIN II
smb01





smb08Di dalam museum tidak begitu luas namun cukup memuat informasi tentang kota Palembang. Disetiap koleksi diberi keterangan sehingga memudahkan pengunjung untuk tahu koleksi apa yang sedang dilihat.




Dimulai dari pengenalan kota Palembang. Diperlihatkan foto-foto kota Palembang tempo dulu yang masih bangunan batu kokoh, halaman yang luas belum banyak kendaraan. Sampai adat pernikahan orang Palembang, perlengkapan sunat anak Palembang, dan panggung nikah.
Adat pernikahan di Palembang untuk di tangan dan kaki menggunakan pewarna yang terbuat dari daun pacar. Daun pacar ini ditumbuk lalu ditempelkan di kuku tangan dan kaki.
smb05





smb09





smb07Selain itu ada juga diperlihatkan peralatan menenun kain songket. Songket merupakan kain khas asli Palembang dan harganya bisa sampai jutaan tergantung tingkat kerumitan dari motif songket.





smb06.           Palembang punya kampung songket yang memang sebagian penduduk di kampung itu berprofesi sebagai penenun songket. Kampung itu terletak di jalan Tangga Buntung (Tanggo Buntung).





Selain itu masih ada bangunan asli Palembang. Corak rumah panggung yang lantai rumahnya beralaskan papan. Selain itu dengan jendela dan pintu yang tinggi yang diukir dengan motif buatan orang Palembang. Selain itu masih ada koleksi lain seperti keramik, mata uang, seni rupa, dan perabotan.
























BAB III
PENUTUP


            Secara keseluruhan koleksi Museum Balaputradewa dan Museum Sultan Mahmud Badarudin II terdiri dari prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya, benda-benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya, benda-benda peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, sejarah perang kemerdekaan di Sumatera Selatan dan benda-benda kebudayaam dari Sumatera Selatan.  Dari koleksi-koleksi yang ada di Museum Balaputradewa memperlihatkan bahwa Kerajaan Sriwijaya pernah menjadi pusat Agama Budha yang terkemuka di dunia pada masa jayanya.  Begitu banyak arca yang menggambarkan Budha yang ditemukan di provinsi Sumatera Selatan yang kemudian menjadi bagian koleksi Museum Balaputradewa.  Di bagian belakang museum terdapat bangunan khas Palembang yaitu Rumah Limas.  Di bagian samping ruang pamer terdapat patung-patung yang mengambarkan budha dari berbagai situs dan diduga merupakan situs Kerajaan Sriwijaya.  Salah satu patung atau arca yang paling terkenal dan sangat menarik perhatian pengunjung adalah patung orang menaiki gajah yang merupakan peninggalan era megalitikum di Sumatera Selatan tepatnya dari dataran tinggi Basemah/Pasemah (Pagaralam, Lahat, Oku, Bengkulu/curup).  Masyarakat setempat menganggap bahwa patung orang menunggang gajah tersebut adalah salah satu kutukan yang benar-benar terjadi dari kisah legenda masyarakat setempat yaitu Legenda Si Pahit Lidah.  Legenda Si Pahit Lidah mengisahkan bahwa siapa saja yang dikutuk olehnya akan menjadi batu.
.



















FOTO-FOTO SAAT DI MUSEUM























































                                               

Museum Balaputradewa
(By Adrian Fajriansyah 25 April 2012)
Gambar 1.  Pintu masuk utama Museum Balaputradewa.
A.  Pendahuluan
            Baru-baru ini saya baru saja berkunjung ke Museum Balaputradewa, kebetulan Museum Balaputradewa baru selesai direnovasi (tanggal 4 April 2012).  Ternyata setelah direnovasi Museum Balaputradewa kini tampak lebih baik, elegan dan modern dengan fasilitas baru seperti AC di tiap ruang pamer lalu ada monitor yang siap menjelaskan setiap koleksi yang ada diruang pamer sehingga kita tidak perlu berlama-lama membacanya serta ruangan yang lebih terang dengan lampu-lampu baru yang lebih bercahaya, dibandingkan dahulu yang terkesan tidak terurus, penggap, panas dan mengerikan serta angker karena tiap ruangan yang gelap.
Gambar 2.  Keadaan di dalam ruang masuk Museum Balaputradewa.
            Museum Balaputradewa terletak di Km 6,5 tepatnya di Jl. Srijaya Negara I No. 288, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia.  Lokasi museum ini dibeli oleh Gubernur Sumsel pada tahun 1976 untuk dijadikan museum.  Museum Balaputradewa dibangun pada tahun 1978 dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 5 November 1984.  Museum ini terletak di areal seluas 23.565 meter persegi.  Design arsitektur bangunan museum terinpirasi dari bangunan tradisional Palembang.  Awalnya museum ini bernama Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan namun setelah keputusan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1223/1999 tanggal 4 April 1990 nama museum diganti menjadi Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputradewa.
            Museum Balaputradewa memiliki sekitar 3580 buah koleksi yang terdiri dari barang-barang tradisional Palembang, binatang awetan dari berbagai daerah di Sumatera Selatan, beberapa miniature rumah pedalaman, replica prasasti dari arca kuno yang pernah ditemukan di Bukit Siguntang, batu-batu ukir raksasa dari jaman Megalitikum, dan masih banyak lagi.
            Koleksi di Museum Balaputradewa dibagi menjadi 10 macam kategori yaitu histografi atau historika (cerita-cerita), etnografi, feologi, keramik, alat-alat teknologi modern, seni rupa (berupa ukiran), flora fauna (biologika) dan geologi serta terdapat rumah limas juga rumah Ulu Ali.  Koleksi-koleksi di Museum Balaputradewa ditempatkan pada 3 buah ruang pameran yang dikelompokan menjadi ruang pamer zaman prasejarah, kesultanan Palembang Darussalam dan masa perang kemerdekaan serta tambahan Rumah Limas (rumah/bangunan khas Palembang).
            Mengunjungi Museum Balaputradewa tidak sulit, kita dapat menggunakan kendaraan umum dengan trayek Km 12, untuk lebih gampang dan nyaman kita dapat menggunakan Transmusi dan mintak pada kondekturnya agar berhenti di halte depan lorong menuju Museum Balaputradewa.  Museum Balaputradewa terbuka untuk umum mulai dari pukul 09.00 WIB sampai 15.00 WIB kecuali hari senin, hari Minggu dibuka dari pukul 08.00 WIB sampai 14.00 WIB.  Hanya dengan uang Rp 2.000-3.000 per orang maka kita dapat menikmati segala koleksi yang ada di Museum Balaputradewa.  Museum Balaputradewa berada di bawah pengelolaan Departemen Pendidikan Nasional, Provinsi Sumatera Selatan.  Selain sebagai tempat informasi dan ilmu pengetahuan, museum Balaputradewa juga dapat menjadi wadah rekreasi yang menarik bagi keluarga karena kita bersama keluarga dapat mengetahui info-info menarik dan menyenangkan yang disajikan menarik oleh pihak museum tentang bagaimana sejarah bangsa khususnya Palembang dan Sumatera Selatan yang sangat hebat di masa dahulu.
            Mengajak anak-anak berkunjung ke museum artinya anda telah mengenalkan kepada generasi muda tentang jati diri bangsa mereka dan akan menumbuhkan rasa cinta, patriotisme dan nasionalisme pada diri setiap putra-putri penerus bangsa.  Ayo ke museum, kunjungi museum di sekitar anda, ajak kakak-adik, ayah-ibu juga teman-teman anda berkunjung ke museum.  Ayo isi dan ramaikan museum disekitar kita.  Jadikan museum sebagai tempat rekreasi wajib kita karena bangsa yang besar dan hebat dapat dilihat dari minat masyarakatnya berkunjung ke museum yang ada disekitar mereka.  Buktikan pada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan rakyatnya sangat menghargai sejarah bangsanya karena bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai sejarahnya.  AYO KE MUSEUM.
B.  Pembahasan
Gambar 3.  Relife kehidupan masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan.
            Balaputradewa sendiri adalah nama seorang raja dari Kerajaan Sriwijaya.  Balaputradewa memerintah pada abad VIII-IX masehi.  Balaputradewa adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Sriwijaya karena di masa pemerintahan beliaulah Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya sebagai sebuah Kerajaan Maritime yang berkuasa hampir diseluruh Nusantara hingga mencapai Thailand, India, Filipina dan China.
            Memasuki pintu depan museum Balaputradewa kita akan langsung disuguhi dengan gambar atau relief kehidupan masyarakat Palembang yang dipanjang persis di depan dinding ruang masuk museum.  Relief kehidupan masyarakat Palembang tersebut menceritakan ada putri Palembang sedang menari Gending Sriwijaya yaitu tarian khas Palembang yang sering ditampilkan untuk menyambut tamu, tari Gending Sriwijaya sendiri pertama kali diperkenalkan pada 12 Agustus 1945.  Kemudian pada relief ada pula rumah Bari yaitu rumah lama khas Palembang.  Ada pula gambar rumah Limas yaitu rumah adat Palembang dimana di atasnya ada ornament tanduk kambing.  Digambarkan pula pada relief tersebut orang yang sedang bertenun songket.  Lalu ada juga sungai musi yaitu sarana transportasi utama di Palembang.  Di gambarkan juga Jembatan Ampera yang dibangun oelh bantuan Jepang tahun 1963 selesai 1965, jembatan Ampera sendiri memiliki panjang 1717 meter.  Dari gambar relief tersebut diceritakan pula bahwa dahulu di Palembang terdapat banyak sekali sungai, diperkirakan di Palembang dahulu terdapat 117 Sungai tapi sekarang hanya tinggal 17 sungai yang masih mengalir, oleh karena itulah Belanda member julukan pada Palembang sebagai Venesia dari Timur Jauh.  Ternyata dari gambar relief juga menceritakan bahwa dahulu Palembang adalah tempat menambang emas.  Lalu dari gambar relief membahas karena Palembang banyak terdapat rawa sehingga membuat rakyatnya membuat rumah panggung agar bisa tinggal di atas rawa.  Dan relief gambar juga membahas dahulu wanita Palembang tidak memakai selendang melainkan memakai Tudung Saji.
            Kebudayaan Palembang mengenal alat-alat yang digunakan saat melamar yaitu sena, nampar, bakul kecil dan bakul besar.  Keseniaan Palembang memiliki kemiripan dengan Arab.  Sedangkan songket memiliki makna yang berbeda-beda yaitu songket yang memiliki kekhasan mirip china dinamakan Bunga Cina dan songket yang memiliki kekhasan mirip arab dinamakan Bunga Pacik.  Songet yang asli biasanya terbuat dari benang Masjanup dan memiliki nilai seni tinggi dan harganya mahal.  Dan pakaian pengantin khas Palembang banyak dibuat di daerah Tanjung Baru.
C.  Mengenal Hasil Cipta Mahakuasa
Gambar 4.  Taman di tengah-tengah Museum Balaputradewa.
            Di dalam museum Balaputradewa juga terdapat peninggalan yang berasal dari alam yaitu: 1) gading gaja yaitu tulang gigi seri bagian atas pada gaja yang memanjang menjadi taring, ditemukan di Pulau Bangka dimana diperkirakan fosil tersebut sudah berumur lebih dari 1000 tahun; 2) Kayu sungkai yaitu sisa bahan organic dari kayu sungkai yang terawetkan secara alami, kayu tersebut banyak tumbuh di daerah OKU dimana umurnya diperkirakan lebih tua dari masa Holosen.  Lalu ada pulau pengetahuan tentang batu atau bahan-bahan kimia seperti: 1) Cassiterte (SnO2) yaitu batu timah; 2) Hematite (Fe2O3) yaitu mineral pada besi merah; 3) Monazite (Xenotime) yaitu bahan tambang; dan 4) Lumite (Ce, Le, T, Th).
            Terdapat pula tumbuh-tumbuhan yang banyak tumbuh di Sumsel yaitu: 1) Nanas (Ananascomosus) yaitu tumbuhan yang berasal dari Amerika Selatan; 2) Tembesu (Fagrae spp.) yaitu pohon yang tumbuh liar dan banyak hidup di Sumatera dan Malaysia; 3) Kopi (coffea) dimana yang banyak tumbuh di Sumsel adalah kopi arabika dan robusta; 4) Lada (Pipesnigrum) yaitu termasuk dalam suku puperaceae dimana biji lada memiliki kandungan alkaloid paperin dari piperidin yang berguna bagi pembuatan heliotropin.
D.  Mengenal Prasasti dari Masa Sriwijaya   
Gambar 5.  Penunjuk arah di Museum Balaputradewa.
            Terdapat 5 buah relpika prasasti yang pernah ditemukan di wilayah Sumsel yang berasal dari masa Kerajaan Sriwijaya yaitu: 1) Prasasti Kedukan Bukit (1920); 2) Prasasti Talang Tuo; 3) Prasasti Kota Kapur; 4) Prasasti Telaga Batu; 5) Prasasti Boombaru.
            Prasasti dari kerajaan Sriwijaya ada yang mencerikan raja yang membawa pasukan dan mendirikan kerajaan Sriwijaya. Ada pula yang menceritakan pelayan dari yang tertinggi sampai terendah harus berbakti pada raja (Telaga Batu).  Nama prasasti dari kerajaan Sriwijaya biasanya memakan huruf palawa dan bahasa Melayu Kuno.
E.  Kisah dari Tiap Ruang Pameran
Gambar 6.  Ruang Pamer Kehidupan Pra Sejarah.
            Ruang pamer 1 secara keseluruhan menceritakan tentang masa kehidupan di jaman pra sejarah (kehidupan manusia purba).  Di ruang pamer 1 telihat berbagai lukisan dan berbagai situs peninggalan hewan-hewan purba yang disebut Vitron.  Kemudian ada pula yang menceritakan manusia purba pertama di pulau Jawa yaitu Pithecanthropus erectus yaitu manusia purba yang berjalan tegak ditemukan oleh Eugene Dubois.  Terdapat pula beraneka ragam binatang yang terdapat di daerah Sumsel yang telah diawetkan dengan cara membuang isi dalam tubuhnya kemudian diisi dengan kapas seperti: buaya, beruang; macan; beruk; semuni; biawak; kuskus; tringgiling dan masih banyak lagi.  Terdapat pula kerangka masuia purba yang ditemukan di gua harimau (OKU).  Ada pula miniature gua putrid yang merupakan situs tempat ditemukannya kerangka manusia pra sejarah.  Selain gua putrid ternyata gua harimau adalah situs tempat ditemukannya masuia purba dengan jumlah yang terbanyak dan terlengkap se Indonesia bahkan Asia Tenggara, di Gua Harimau pula ditemukan luksian yang diperkirakan dari masa pra sejarah (purba) dimana dengan ditemukannya lukisan gua jaman pra sejarah di Gua Harimau menjadikan tempat tesebut sebagai gua kedua atau yang pertama di Sumatera tempat ditemukannya lukisan gua dari jaman purba setelah dua di daerah Sulawesi.
Gambar 7.  Miniatur Gua Putri (OKU) tempat ditemukannya kerangka manusia purba di Sumsel.
            Selain itu di ruang pamer 1 juga dipamerkan batu-batu raksasa dari jaman Megalitikum, batu-batu megalit tersebut kebanyakan ditemukan di daerah daataran tinggi Basemah (Pasemah) yaitu Bengkulu, Muaraenim, Lahat dan Pagaralam.  Batu-batu megalitikum tersebut membuktikan bahwa dahulu teknologi masa lalu/peradaban nenek moyang kita sudah sangat maju dan berkembang tidak kalah dengan bangsa lain sehingga kita sebagai generasi penerusnya harus bangga dengan apa yang telah nenek moyang kita tinggalkan untuk kita maka dari itu kita harus senantiasa merawat dan menghargainya.

Gambar 8.  Fasilitas baru di Museum Balaputradewa.
Gambar 9.  Kerangka manusia purba yang ditemukan di Gua Pondok Salabe (OKU).
Gambar 10.  Wajah baru dari Museum Balaputradewa.
Gambar 11.  Salah satu arca megalitikum dari masa pra sejarah yang ditemukan di dataran tinggi Basemah.  Arca megalith ini menampilkan bentuk seorang laki-laki perkasa. Bentuk mata bulat dan besar, tulang hidung besar dan lebar, demikian pula mulut dan kedua bibir. Tulang rahang dan tulang dagu sangat menonjol. Telingan dan leher juga digambarkan besar. Sama halnya dengan arca-arca primitive dari daerah Pasemah yang lain, yang menggambarkan serba besar pada bagian-bagian tubuh tertentu. Arca megalith ini berasal dari abad pertama masehi.
Gambar 12.  Arca Buddha ditemukan di Desa Tingkip, Musi Rawas, Sumsel. Berdiri di atas asana berbentuk Padmasamaganda mengenakan jubah tipis polos, serta memperlihatkan sikap tangan Witarkamudra yang melambangkan sang Buddha sedang mengajar. Berdasarkan kehalusan seni dan gaya pahatan yang ditampilkan arca ini mengikuti gaya seni Dwarawati tetapi produksi lokal jaman Sriwijaya.
Gambar 13.  Batu Gajah ditemukan di Desa Kotaraya, Pagaralam pada tahun 1930an. Oleh Van den Hoop arkeolog asal Belanda pada tahun 1930an Batu Gajah ini dibawah dari Pagaralam ke Palembang. Arca Batu Gajah tidak hanya bernilai Profan, namun lebih cenderung kepada hal-hal yang bernilai sakral, keberadaan arca ini menjadi bukti akan tingginya tingkat teknologi seni pahat yang dicapai masyarakat pada masa Megalitikum. Selain itu Batu Gajah adalah salah satu benda yang dianggap sebagai korban/bukti dari kutukan “Si Pahit Lidah”, Legenda Si Pahit Lidah menceritakan seseorang yang dapat mengutuk orang lain menjadi batu.
            Di bagian lain luar ruang pamer menampilkan jenis arca yang diperoleh dari daerah Pagaralam sebanyak 8 buah yang berasal dari jaman pra sejarah sekitar 2000 tahun yang lalu.  Terdapat sebuah arca berbentuk patung kepala Budha yang berasal dari daerah Pagaralam, terdapat juga arca berbentuk lembuh yang dikeraskan dimana hewan ini dianggap sebagai kendaraan Dewa Shiwa, kemudian terdapat sebuah patung berupa wadah panjang yang digunakan untuk meletakkan tulang manusia ataupun tulang-tulang penduduk setempat yang telah mati dimana menurut sumber cara tersebut dilakukan oleh para penganut Animisme pada masa dahulu kalah, selanjutnya terdapat patung gajah yang dinamakan Ganesha berupa gajah menutup kedua telinganya dimana patung ini memiliki bobot 5 ton yang di dapatkan di daerah Pagaralam dan terakhir terdapat sebuah patung anak muda yang sedang menaiki seekor binatang.  Adapun secara keseluruhan arca-arca Agama Budha yang terdapat di Museum Balaputradewa adalah:
  1. Prasasti Arca Nanda
  2. Arca Makara
  3. Arca Perwujudan 1
  4. Arca Perwujudan 2
  5. Arca Perwujudan 3
  6. Arca Siwamahaguru
  7. Fragmen prasasti batu-batu Bumi Ayu
Gambar 14.  Animasi Sultan Palembang yang menyambut tamu berkunjung ke ruang pamer sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam.
            Di ruang pamer ke 2 menyajikan peninggalan arca-arca dari masa kerajaan Sriwijaya hingga peninggalan dari kerajaan Palembang Darussalam.  Dari masa kerajaan Sriwijaya terdapat replica prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada 29 Desember 1920 yang mengisahkan tentang seorang raja yang membawa pasukan sebanyak 2 laksa atau sekitar 2000 orang.  Terdapat juga replica prasasti Telaga Batu ditemukan pada tahun 1935 yang di atasnya terdapat 7 buah kepala ular kobra.  Kemudian ada pula replica prasasti Talang Tuo ditemukan pada 17 Desember 1920 yang mengisahkan bahwa sang raja membangun sebuah taman yang bernama Sedi Kosetr.  Masih banyak lagi prasasti-prasasti yang ditemukan di Pulau Bangka pada tahun 1920an.  Di museum ini juga terdapat prasasti Boom Baru ditemukan 1950 yang bertuliskan huruf palawa bahasa Sangsekerta.  Sangat menarik melihat prasasti-prasasti tersebut karena prasasti itu adalah salah satu bukti nyata bahwa dahulu memang pernah ada Kerahaan Sriwijaya yang tersohor itu dan lewat prasasti ini kita dapat mengetahui sepenggal kisah yang disampaikan dari masa kerjayaan Sriwiaya dahulu.
            Di sudut lain dari ruang pamer 2 terdapat berbagai arca peninggalan dari jaman Agama Hindu yang ditemukan di Bumi Ayu seperti arca Awalokiteswara, lalu terdapat sebuah wadah guci yang mengisahkan bahwa manusia terdiri dari 4 unsur yaitu api, air, udara dan tanah dimana pada masa lalu tubuh manusia yang sudah meninggal dibakar dan abunya dimasukan ke dalam guci tersebut yang diberi nama Bua Bua.  Di sisi lain terdapat lukisan suasana Palembang pada masa Kerajaan Sriwijaya saat berjaya di abad ke 7 Masehi sampai pertengahan abad 14 Masehi.  Di saat masa kehancuran Sriwijaya, kota Palembang menjadi tempat atau kota tak bertuan maka datanglah 4 orang perompak dari Cina yang dipimpin oleh Lio Tauming namun saat itu walaupun dengan kekuatan seadanya tetap dapat digempur oleh Pangeran Ario Damar untuk mempertahankan kota Palembang dan akhirnya berhasil.  Ario Damar adalah seorang pangeran yang berasal dari Majahpahit.  Pangeran Ario Damar terkenal dengan nama Raden Patah.  Raden Patah ketika mengetahui ayahnya menjadi seorang raja di Majahpahit membuat ia berniat kembali ke Majahpahit untuk memberitahukan kepada ayahnya tentang keadaan di Sriwijaya namun menjadi sia-sia karena ayahnya telah meninggal dunia terlebih dahulu kemudian Raden Patah bertemu dengan Wali Songo.  Pada masa pendudukan Belanda di Palembang, daerah yang dahulu dipertahankan oleh Raden Patah dari serangan perompak Cina dibumi hanguskan oleh Belanda, daerah tersebut dahulu di masa Kesultanan Palembang Darussalam dikenal dengan nama Kuto Gawang dan sekarang menjadi Pabrik Pupuk Sriwijaya.  Adapun peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam di Palembang adalah:
  1. Manik-manik
  2. Umpak batu
  3. Arca tablet tanah liat
  4. Kapak arca Awaloketiswara
  5. Fregmen acra perunggu
  6. Kaki arca
  7. Dan lukisan abad 17 yang mengisahkan perang antara Kesultanan Palembang Darussalam melawan Tentara Kolonial Belanda di depan Keraton Kuto Gawang (sekarang Pabrik Pupuk Sriwijaya)
Gambar 15.  Arca Awalokiteswara. Arca ini aslinya terbuat dari batuan andesit, ditemukan di daerah Musi Ulu Palembang. Arca digambarkan dalam posisi berdiri di atas asana tetapi sudah hilang dan jari-jari kaki lurus ke depan. Mempunyai empat buah tangan, tiga di antaranya telah patah, yang tersisa hanya tangan kiri belakang membawa sesuatu yang tidak jelas. Menggunakan jubah, rambut ikal keriting, mata setengah tertutup, hidung mancung, mulut seolah tersenyum dan lubang telinga pangan. Perhiasan berupa upawita lebar yang berbentuk pita di atas bahunya. Ikat perut berbentuk gasper juga berbentuk pita. Mahkota yang dikenakan diikat di kepala bagian belakang dan pada mahkota tersebut terdapat arca Amithaba dalam posisi duduk di atas padmasana. Pada bagian punggung arca ini terdapat prasasti pendek dengan bahasa Sansekerta dan huruf jawa kuno, berbunyi: “accarya,, dan seterusnya”. Arca ini diperkirakan berasal dari abad 9 Masehi.
Gambar 16.  Diorama ini menggambarkan Keraton Kuto Gawang berdasarkan hasil lukisan sketsa Joan van der Laen yang dibuat tahun 1659. Keratin dilukiskan menghadap ke arah Sungai Musi (ke selatan) dengan pintu masuk melalui Sungai Rengas. Disebelah timurnya berbatasan dengan Sungai Taligawe dan disebelah baratnya berbatasan dengan Sungai Buah. Dalam gambar sketsa tampak Sungai Taligawe, Sungai Rengas dan Sungai Buah tampak terus ke utara dan satu sama lain tidak bersambung. Sebagai batas kota sisi utara adalah kayu besi dan kayu unglen. Ditengah benteng tampak berdiri megah bangunan keraton yang letaknya di sebelah barat Sungai Rengas. Keraton Kuto Gawang ini didirikan oelh Ki Gede ing Suro pada awal abad ke 17 Masehi. Sekarang lokasi eks Keraton Kuto Gawang telah berdiri Pabrik Pupuk Sriwijaya.
Gambar 17.  Benda-benda budaya khas Palembang.
Gambar 18.  Benda-benda kerajinan khas Palembang.

Gambar 19.  Tampak foto seseorang dan alat pemintal benang.

Gambar 20.  Songket khas Palembang.
            Peninggalan kebudayaan dari masa kesultanan Palembang Darussalam, disalah satu sisi diruang pamer 2 memajang lukisan seseorang bernama Sultan Mahmud Badaruddin atau Joyo Wikromo atau Sultan Mahmud Badaruddin I pendiri daerah di pinggir Sungai Musi yang sekarang dikenal dengan nama Benteng Kuto Besak dan terlihat pula gambar Masjid Agung Palembang yang dibangun kurang lebih selama 10 tahun dari tahun 1738 sampai 1746.
Gambar 21.  Benda-benda sisi peninggalan masa kolonial Belanda di ruang pamer masa kemerdekaan.
Gambar 22.  Kitab-kitab jadul peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam.
            Ruang pamer 3 menampilkan kumpulan koleksi-koleksi peninggalan pada masa perang mempertahankan kemerdekaan.  Di ruang pamer masa kemerdekaan banyak terdapat benda-benda dari masa kolonial Belanda saat menjajah di wilayah Palembang dan Sumatera Selatan.  Di anatarnya ada uang atau koin mata uang dari jaman Belanda, Jepang hingga awal kemerdekaan Indonesia.  Kemudian ada benda-benda kuno seperti radio, piringan hitam, pedang, pistol, pakaian, topi, meriam dan masih banyak lagi.

Gambar 23.  Rumah Limas khas Palembang.
            Kemudian di bagian paling belakang dari Museum Balaputradewa kita dapat singgah ke Rumah Limas.  Rumah Limas di Museum Balaputradewa adalah rumah yang dahulu dimiliki oleh orang arab bernama Sarip Abdurahman Al Habsi (Arif) yang diangkat oleh Belanda menjadi seorang Kapitan.  Rumah Limas tersebut dibangun pada tahun 1836 Masehi lalu kemudian dijual kepada Pangeran Betung.  Rumah Limas tersebut masih sangat lengkap dengan berbagai macam perabotan yang khas Palembang seperti kursi, lemari, lampu-lampu gantung, dan lainnya.  Rumah Limas tersebut terdiri dari 4 buah lantai atau biasa disebut berkilat.  Rumah Limas tersebut sudah 3 kali berpindah.  Langit-langit Rumah Limas dihiasi dengan lampu-lampu stolop dengan menggunakan lilin dan air sehingga terlihat efek pelangi.  Terdapat tanduk rusa sebagai gantungan pakaian, lemari gerobok leket, pintu yang tidak menggunakan engsel dan umumnya Rumah Limas menghadap kea rah Sungai.
            Selain Rumah Limas terdapat pula Rumah Bergajah yaitu tempat orang-orang terhormat.  Lalu terdapat Rumah Hulu/Rumah Anti Gempa yaitu rumah yang tiangnya tidak ditanam namun hanya menggunakan batu yang dijadikan sebagai penyanggah dan lantainya menggunakan bambu.  Rumah ini memiliki bobot yang ringan, dinding yang bisa dibuka dan tidak memiliki jendela.  Rumah ini sendiri ditemukan di daerah Asam Kelat.
            Terdapat pula Gedung 3 Manusia dan Lingkungannya.  Pada gedung tersebut terdapat berbagai jenis alat transportasi seperti Liu-liu, gerobak, rakit dan perahu serta ada Jali yaitu kelombu yang berbentu burung-burungan dimana biasanya joli-joli ini diberikan untuk pengantin wanita sebagai lamaran juga ditambah dengan sena/nampa dan songket.  Di sini juga terlihat keranda berwarna hijau, ada juga patung seorang ibu tua yang sedang menganyam songket dan songket tersebut hanya boleh dipakai oelh seorang wanita yang sudah mempunyai suami.  Hasil dari tenunan patung ibu tua itu terpajang disebelah patung tersebut diantaranya adalah songket bunga pacar, songket naga, songket beraung dan berbagai aksesoris pengantin khas Sumsel seperti kalung dan gelang dari Tanjung Batu, Batik Pale, Batik Supri dan lainnya.  Kemudian yang terakhir di dalam Rumah Limas juga terdapat 7 keranda orang meninggal (tudung) berwarna hitam.
Gambar 24.  Galeri atau Ruang Pamer Kebudayaan Malaka.
            Tambahan, di Museum Balaputradewa sekarang terdapat ruang khusus pertukaran budaya antara Kesultanan Malaka (Malaysia) dan Palembang (Indonesia).  Ruang pamer (Galeri) kebudayaan Malaka ini baru dibuka sekitar tahun 2011 saat Sultan Malaka berkunjung ke Palembang.  Ruang pamer kebudayaan Malaka didedikasikan kepada masyarakat Palembang karena adanya keterikatan batin dan budaya antara masyarakat Malaka dan Palembang.  Sultan Iskandar Syah yang lebih dikenal dengan nama Parameswara di Palembang merupakan sultan pertama dan pendiri kerajaan Malaka, Sultan Iskandar Syah atau Parameswara adalah orang Palembang asli yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Sriwijaya, saat Sriwijaya hancur pada abad ke 14 Masehi dan akan diduduki oleh kerajaan Majahpahit beliau (Parameswara) melarikan diri ke Semenanjung Malaka (Malaya), kemudian di Malaka Parameswara menikah dengan penduduk setempat lalu masuk Islam dan berganti nama menjadi Iskandar Syah, Iskandar Syah lalu mendirikan sebuah kerajaan di tanah barunya tersebut dengan nama Kesutanan Malaka.  Itulah sedikit kisah dari berdirinya Kerajaan Malaka di Semenanjung Malaya, oleh alasan itulah mengapa Sultan Malaka berkunjung ke Palembang lalu kemudian membuka Galeri Kebudayaan Malaka di Museum Balaputradewa agar para generasi muda di Palembang dan di Malaka sadar dan mengetahui bahwa antar kedua tempat tersebut memiliki ikatan batin dan budaya yang sangat erat dari diri leluhur mereka yaitu sang raja terakhir Sriwijaya dan raja pertama di Malaka “Sang Mulia Baginda Sultan Iskandar Syah atau Sri Baginda Parameswara”
F.  Penutup
Gambar 25.  Rumah Limas khas Palembang jadikan gambar di mata uang 10 ribu rupiah.
            Secara keseluruhan koleksi Museum Balaputradewa terdiri dari prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya, benda-benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya, benda-benda peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, sejarah perang kemerdekaan di Sumatera Selatan dan benda-benda kebudayaam dari Sumatera Selatan.  Dari koleksi-koleksi yang ada di Museum Balaputradewa memperlihatkan bahwa Kerajaan Sriwijaya pernah menjadi pusat Agama Budha yang terkemuka di dunia pada masa jayanya.  Begitu banyak arca yang menggambarkan Budha yang ditemukan di provinsi Sumatera Selatan yang kemudian menjadi bagian koleksi Museum Balaputradewa.  Di bagian belakang museum terdapat bangunan khas Palembang yaitu Rumah Limas.  Di bagian samping ruang pamer terdapat patung-patung yang mengambarkan budha dari berbagai situs dan diduga merupakan situs Kerajaan Sriwijaya.  Salah satu patung atau arca yang paling terkenal dan sangat menarik perhatian pengunjung adalah patung orang menaiki gajah yang merupakan peninggalan era megalitikum di Sumatera Selatan tepatnya dari dataran tinggi Basemah/Pasemah (Pagaralam, Lahat, Oku, Bengkulu/curup).  Masyarakat setempat menganggap bahwa patung orang menunggang gajah tersebut adalah salah satu kutukan yang benar-benar terjadi dari kisah legenda masyarakat setempat yaitu Legenda Si Pahit Lidah.  Legenda Si Pahit Lidah mengisahkan bahwa siapa saja yang dikutuk olehnya akan menjadi batu.
Gambar 26.  Beberapa arca megalitikum yang pernah di temukan di Sumsel, dipajang di pintu masuk Museum Balaputradewa.
            Akan tetapi, walaupun museum Balaputradewa adalah berstatus museum negeri atau museum Provinsi sangat jarang atau sedikit sekali jumlah kunjungan ke museum tersebut, padahal koleksi dan fasilitas yang ada di museum tersebut cukup baik, apakah ini karena kurangnya minat masyarakat untuk mengenal sejarah kebudayaan nenek moyangnya atau karena kurangnya promosi dari pihak museum?? Kita tidak tahu apa yang terjadi.  Namun sudahlah, mulai dari hari ini marilah kita bersama-sama mengisi dan meramaikan museum yang ada disekitar kita karena banyak sekali manfaat yang didapatkan dari mengunjungi museum yaitu ilmu pengetahuan dan juga saranan rekreasi dari penatnya kehidupan di kota yang sangat semerawut.  Ayo kita kujungi museum kita.!! Dan untuk pihak museum teruslah berbenah, teruslah untuk menjadi lebih baik agar masyarakat semakin dan lebih tertarik untuk berkunjung ke museum.

Kamis, 09 Mei 2013

lirik lagu celine dion one heart

(One heart you are following)
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
You can run and you can begin’
In a place where you don’t fit in
Love will find a way …yeah
When you’re down, you can start again
Turn around anything you’re in
Love will find a place yeah
If you got one heart you are followin’
One dream keeps you wondering
Love lights your way through the night
One wish keeps you tryin’
What’s your silver lining
Loves lights your way through the night
You can fall a thousand time
You can feel like you’ve lost your mind
Love will find a way oh yeah yeah
In a minute it can change your life
In a moment it can make you right
Love will find a place yeah
If you got one heart you are followin’
One dream keeps you wondering
Love lights your way through the night
One wish keeps you tryin’
What’s your silver linin’
Loves lights your way through the night
Everybody needs something to hold on to
Everybody needs something to hold on to
If you got one heart you are followin’
One dream keeps u wondering
Love lights your way through the night
One wish keeps you tryin’
What’s your silver linin’
Loves lights your way through the night
One wish keeps you tryin’
What’s your silver linin’
Loves lights your way through the night
Love will find a way
Love will find a way in your heart

Add caption

with my friends

Foto: Opi

pidato bahasa inggris tentang freesext


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
The Honourable Our English Teacher Mrs.tutwuri  and for you all my dearest friend.
Praise and gratitude prayed to Allah the Almighty who has provided health to Us, so that we can come face to face here today.
Thanks for this precious opportunity, so I can stand in front of you all to speak freely about Free Sex.
We must know clearly that Free Sex is sexual intercourse by married couples, and it is not natural for unmarried couple or teenagers in secondary school age, have free sex.
Those are the impacts of promiscuity, which originated from the parents who just busy with their jobs, so their teenage child receive less attention and affection. The teens didn’t get moral education from their parents, the teenagers are also less in spirituality knowledge, so their faith is weak.
Promiscuity causes teens feel free to do whatever, they thinking their parents will not know if they doing things that are not good such as smoking, drugs, liquor, and of course free sex.
Teenagers can do free sex, usually because the influence from their friend to see pornographic images from magazines, and watch porn video, so they want to know and do it with their partner. Without consider the impact that will happen afterwards, and without remembering their sins to god.
So many teenagers today are pregnant before marriage, and finally they had an abortion. There are even teenagers who affected by virus of free sex, namely HIV AIDS. Until now, world don’t have medicine for that illness.
So my lovely friends, reinforce your faith, don’t do sex before marriage, because it will damaging your future.
I think enough, thanks for your attention.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Selasa, 07 Mei 2013

menganalisis cerpen



Sinopsis Cerpen Persahabatan Sunyi

                Lelaki setengah umur yang kelihatan cukup sehat itu akan “tutup praktik” ketika matahari mulai tergelincir ke Barat. Ditemani oleh seekor anjing betina kurus, ia turun dengan langkah pasti menuju lekukan sungai hitam di pinggir jalan, mendapatkan gerobak dorong kecil beroda besi seukuran asbak. Dari dalam gerobak yang penuh dengan buntelan dan tas-tas berwarna seragam dengan dekil tubuhnya.
Lelaki itu lewat begitu saja mendorong gerobak bermuatan anjing dan buntelan-buntelan kumal miliknya sambil mencari puntung-puntung rokok yang masih berapi di pinggir jalan. Tiba-tiba saja ada seorang bocah perempuan ingusan yang memegang krincingan dari tutup botol munuman melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak pinggang, menatap bocah perempuan itu dengan tajam. Bocah perempuan itu balas menantang sambil berkacak pinggang. Dan lelaki itu akhirnya meninggalkan tempat itu dengan mendorong kembali gerobak kecilnya. Namun, bocah perempuan dengan kerincingan itu mengikutinya dari belakang dengan jarak sepuluh meteran.
Malam telah larut. Bocah perempuan ingusan itu terbirit-birit dikejar gerimis yang mulai menghajarnya. Rambutnya yang nyaris gimbal itu kini melekat lurus-lurus di kulit kepalanya yang disiram gerimis. Bocah itu mengeluarkan lilin dan korek api dari dalam kantong plastik. Berkali-kali menggoreskan korek api, padam lagi oleh tiupan angin yang bertempias. Lalu ia mendekat ke arah lelaki itu agar terlindung oleh angina dan berhasil menyalakan lilin. Bocah itu melihat ujung lipatan kardus tersembul dari dalam gerobak kecil di atas kepala lelaki setangah umur itu. Ia berusaha menariknya keluar tanpa menimbulkan suara berisik dan membangunkan lelaki itu.setelah berhasil, ia membaringkan dirinya yang setengah menggigil karena pakaiannya basah. Merapat pada tubuh lelaki yang memunggunginya itu sekedar mendapatkan imbasan panas dari tubuh lelaki itu.
Deru mesin mobil yang melintas jembatan beton di atas mereka justru menimbulkan rasa tenteram, rasa hidup di sebuahn kota yang sibuk. Lelaki setengah umur itu juga sedang bermimpi tidur dengan seorang perempuan. Ketika ia membalikkan badannya, ia menangkap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu dan melanjutkan mimpinya.
Sebelum subuh, pasukan tramtib itu dating lagi, lengkap dengan polisi dan beberapa truk mengangkut gelandangan. Mimpi lelaki itu tersangkut bersama gerobaknya di atas bak truk. Begitu juga bocah perempuan itu.

Unsur Intrinsik Cerpen Persahabatan Sunyi
1. Tema
Tema pada cerpen tersebut adalah tentang perjuangan hidup.
2. Latar dan alur
Latar cerita di dalam cerpen itu adalah Kota Jakarta. Cerita tersebut menggunakan alur maju.
3. Tokoh
Tokoh di dalam cerita itu adalah Lelaki setengah umur dan Bocah perempuan
4. Karakter lelaki setengah umur
Penyayang:
Pembuktian dari tokoh lelaki setengah umur ini penyayang adalah pada kutipan cerita sebagai berikut:
"….Lelaki setengah umur itu mengambil sebuah piring plastik dari dalam buntelan lalu memberi makan yang didapatnya dari rumah makan tadi. Keduanya makan dengan lahap tanpa menoleh kanan kiri."
Dari kutipan cerita di atas didapatkan bahwa si Lelaki setengah umur itu memiliki sifat penyayang terhadap bocah perempuan kecil yang membawa kerincingan dari tutup botol minuman itu walaupun mereka tidak saling mengenal. Dengan rela ia berbagi makanan dengan gadis itu agar mereka berdua tidak kelaparan.
Pembuktian sifat penyayang lainnya yang dimiliki oleh lelaki itu adalah sebagai berikut:
"…. Deru mesin mobil yang melintas jembatan beton di atas mereka justru menimbulkan rasa tenteram, rasa hidup di sebuahn kota yang sibuk. Lelaki setengah umur itu juga sedang bermimpi tidur dengan seorang perempuan. Ketika ia membalikkan badannya, ia menangkap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu dan melanjutkan mimpinya."

Dari kutipan cerita di atas didapatkan pembuktian bahwa si tokoh (lelaki setengah umur) itu memang benar-benar penyayang. Dia berusaha menghangatkan bocah perempuan yang kedinginan tidur dengan cara mendekapnya, agar si bocah perempuan itu merasa hangat.

5. Karakter Bocah Perempuan
Karakter Bocah Perempuan itu adalah pemberani, hal ini terdapat pada kutipan berikut:
"…Seorang bocah perempuan ingusan yang memegang kerincingan dari kumpulan tutup botol minuman telah melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak pinggang enatap bocah perempuan itu dengan tajam. Bocah perempuan itu balas menantang sambil berkacak pinggang."

6. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan penulis pada cerpen tersebut menggunakan sudut pandang orang ketiga.

7. Amanat

Amanat yang disampaikan oleh penulis dalam cerpen itu adalah:
a. jangan pantang menyerah dalam menjalani hidup dan mensyukuri atas karunia yang diberikan Tuhan kepadanya.
b. berikanlah kasih sayang kepada makhluk hidup.

Unsur ekstrinsik
Unsur ekstrinsik yang terdapat pada cerpen itu adalah adanya nilai sosial, yakni:
1. Di dalam cerpen itu digambarkan bahwa tokoh mau berbagi tempat tidur dengan bocah perembuan yang selalu mengikutinya.
"….. Bocah itu melihat ujung lipatan kardus tersebut dari dalam gerobak kecil di atas kepala lelaki setengah umur itu. Ia berusaha menariknya keluar tanpa menimbulkan suara berisik dan membangunkan lelaki itu. Setalah berhasil, ia membaringkan dirinya yang setengah menggigil karena pakaiannya basah. Merapat pada tubuh lelaki yang memunggunginya itu, sekedar mendapatkan imbasan panas dari tubuh lelaki itu."
2. Adanya perjuangan hidup yang digambarkan di dalam cerpen itu, yakni:
a. Perjuangan hidup Lelaki setengah umur dengan cara memulung dan mencari sisa-sisa makanan di restoran.
b. Perjuangan hidup Bocah perempuan mencari makan dengan cara mengamen dan ia terus mengikuti si Lelaki setengah umur dari belakang untuk mengharap belas kasih dan perlindun
gan.